« Back
Probike News Detail
  • Kapasitas Moge Sesuai Karakter Indonesia

    Kapasitas Moge Sesuai Karakter Indonesia
    OTOMOTIFNET -  Masuknya PT Indomobil Niaga International (IMNI) dalam menyediakan kendaraan completely built-up (CBU) di pertengahan tahun ini menyegarkan pasar motor hobi. Segmen ini memang buat mereka yang memiliki uang dan gaya hidup.

    Di kelas bawahnya, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) juga mengeluarkan varian barunya akhir Mei lalu. Yakni, Kawasaki Ninja 250R. Melihat fakta ini apakah nantinya, pasar motor nasional bisa bergeser ke kapasitas besar? pertanyaan berikutnya moge seperti apa yang cocok dengan karakter, postur, infrastruktur di Indonesia?

    Edi Darmawan, Manager Marketing Roda Dua, PT IMNI mengatakan tidak tertutup kemungkinan suatu saat jalanan Indonesia terutama kota besar akan dijejali kendaraan besar. “Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand juga sudah mengarah ke sana. Contoh lainnya, siapa sangka jualan skubek yang baru 8 tahun dikenal di sini telah booming,” papar pria dandy berkacamata.

    Namun, Edi menambahkan, saat ini moge baru sekadar hobi. “Belum menjadi kebutuhan sehari-hari. Peruntukkannya, paling Sabtu-Minggu untuk turing atau kongkow,” jelas Edi. Mitsuhiko Okada, Direktur Marketing PT KMI mengatakan bahwa kehadiran Kawasaki Ninja 250R seolah ingin memuaskan kalangan pecinta motor hobi sekaligus operasional.

    “Dengan kapasitas 250 cc, cocok untuk karakter dan postur orang Indonesia. Rasanya, motor sekelas ini yang cocok untuk jalanan Indonesia,” jelas wong Jepun ini. Ia juga mengatakan sebenarnya untuk postur Indonesia yang memiliki tinggi sekitar 170 cm, motor sport turing sampai kapasitas 400 cc masih layak dipakai.

    “Namun, terkendala pajak yang kelewat mahal. Sampai di sini harganya bisa lebih tiga kalinya,” sebut Okada lagi. Hal sama diutarakan Hendrik, importir motor CBU dari Pro Bike. Menurut pria yang sudah lebih dari 5 tahun menekuni bisnis ini, kapasitas sampai 600 cc masih cocok untuk jalanan Indonesia.

    “Terutama untuk tipe sport-turing. Kalau sport tidak cocok, karena powernya terlalu besar dan karakternya kurang pas dengan jalanan di Indonesia,” terang Hendrik yang bicara atas dasar pengalaman. Di Indonesia, pasaran sport kelas 250-400 cc bisa diisi oleh Ninja 250R, Suzuki Bandit 400 cc, Yamaha YZF250, atau Honda CBR 250.

    “Harga motor itu kalau dikeluarkan ATPM bisa mencapai Rp 60 jutaan. Motor ini cocok untuk jalanan dan postur orang Indonesia,” ulas Hendrik. Bajaj yang fokus sebagai produsen motor sport ikut nimbrung. “Sejujurnya bagi produsen, moge itu terlalu kecil. Itu sebagai proyek imej. Bahwa si produsen mampu membuat sebuah motor dengan teknologi tinggi.

    Tapi, tidak tertutup kemungkinan suatu saat jalanan Indonesia akan ramai oleh motor berkapasitas besar,” papar Apong Arfiansyah, Manager Marketing, PT Bajaj Auto Indonesia (BAI). Dyonisius Beti pun mengatakan hal sama. “Yamaha masih konsen untuk motor harian. Jadi, saat ini belum akan terjun di pasar atas dengan meluncurkan moge. Karena pasarnya kecil,” papar Vice President Director YMKI ini.

    Rupiah Terpuruk, Moge Makin Berat
    Karena masih impor, harga CBU fluktuasi. Tergantung nilai tukar rupiah saat ini. Hendrik, pemilik Pro Bike mengakuinya. “Berat sekali saat ini. Satu dolar sebelum ini masih di kisaran Rp 9.000. Sekarang lebih Rp 11 ribu. Harga secara otomatis akan naik sekitar 10-15 persen,” paparnya.

    Hal sama juga diakui Apong. PT BAI saat ini masih mengimpor produknya. “Memang ada kenaikan biaya. Tapi untuk harga yang telah ditetapkan saat ini belum ada kenaikan. Persoalan menaikkan harga itu memang dilema. Mesti melihat berbagai faktor.”

    Penulis: Hend

    Sumber: otomotifnet.com

    11-September-2008 19:23
    • SHOP BY CATEGORY